Pernah ngga sih kita kepikiran, di balik riuhnya dunia menyemarakkan beragam variasi jalan kehidupan, kita hanya 1/1 milliun, bahkan trilliun..manusia yang hidup di Dunia ini yang merasa bahwa kita ini hanya 1. Bingung apa maksud saya?
Singkatnya begini..
Kita..yang terlahir sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, tentunya punya waktu bagi diri kita untuk menjadi diri sendiri dan ada kalanya ketika kita harus berbaur dengan sesama dan mampu menempatkan diri di lingkungan-lingkungan yang berbeda. Dan ketika kita menjadi seorang individu. Dimana hanya kita sendiri, dan melakukan refleksi atas segala sesuatu yang sudah kita lampaui, dari sejak kita dilahirkan hingga entah berapa umur kita sekarang, yang jawabanya pun beragam. Ada yang masih 1tahun, ada yang menginjak 17, ada yang 20 tahun, dan ada yang bahkan over 50 years of age.
Begitu uniknya manusia, sampai setiap manusia punya jalan yang berbeda-beda, punya pemikiran yang berbeda-beda, punya hidup yang berbeda-beda dan kemampuan yang berbeda-beda. Tapi..
Semua perbedaan itu..hanya akan berlaku sekali seumur hidup, yaitu di Dunia.
Ketika, nantinya, semua manusia di bangkitkan kembali, semua sudah kembali sama.
Di Mata Yang Kuasa, semua manusia di pandang sama derajatnya,
tidak peduli dia anak orang kaya, atau orang miskin, apa dy lulus sarjana atau tidak, mendapat gelar ABCDE atau hanya namanya saja yang dibawa bersamanya. Semua itu tidak akan berpengaruh akan keputusan Yang Maha Kuasa.
Dan ketika, saya teringat tengah berada di dunia, melakukan aktivitas saya atas kemauan saya dan atas beberapa tuntutan pendidikan; misal mengerjakan laporan, survey dan segala tetek bengeknya dimana saya belum bergelar. Dan ketika teman-teman saya tengah bekerja keras menyelesaikan studinya yang sedang mencari gelarnya. Pacar saya yang bergelar 1 yaitu ST,tengah bekerja dengan teman-temannya di sebuah studio arsitek yang menangani hal yang jauh berbeda dengan apa yang terjadi di bangku kuliah yang saya sedang alami. Ayah saya yang bergelar 5 macam pada nama Beliau, H.Ir.MUP,MSc,Ph.D, yang sibuk duduk di kursi panasnya setiap hari dan berbekal pena dan tanda tangannya. Mama saya yang bergelar 3. Hj.Dr.Sp.Kk yang berhasil membuka praktek di rumah dan menerapkan ilmu spesialis yang di dapatkannya ketika masih duduk di bangku perkuliahan.
Bayangkan..
seberapa pengaruh gelar yang terjadi di dunia, namun..
gelar-gelar itu tidak di bawanya pulang..
gelarnya bukan bekalnya, yang menjadi bekal adalah amalnya dan usahanya serta ibadahnya.
yang dibawa pulang bukan seberapa tinggi derajatnya di mata orang lain,
tapi derajatnya yang didapat dari amal,serta ibadahnya.
Jika memang benar,
saya sekarang berpemikiran begini, apakah ini maksudnya saya sudah menemukan diri saya, dan mengetahui tujuan hidup saya?
ataukah, saya bisa jadi terbawa arus dunia yang sedemikian tingganya menyeret saya ketengah lautan dunia? Akan kah ada diri saya yang lain dengan dunia di masa depan?
apakah ini hanya saya yang sudah pasti saya akan tetap begini walau dunia berubah?
Saya, mencari ilmu, bukan untuk sebuah gelar dan mendapatkan nama yang baik di mata manusia lain. TETAPI, saya..mencari ilmu dan mengais ilmu sedalam-dalamnya, untuk di amalkan, dan usaha saya menjadi tingkatan derajat saya di mata Yang Maha Kuasa dan sekaligus, dengan ilmu saya beribadah. Amiiin..semoga..ini yang akan menjadi pemikiran saya..2, 3 tahun mendatang..atau 10 tahun mendatang. Only God Knows..
Could there be another me? or..THIS IS ME? ...
ingat,..gelar hanyalah BONUS...
-chacha-